Jumat, 12 Februari 2021

Halaqoh 18 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Qurān Bagian 04 Dari 06

Kitab Al Qurān Bagian 04 Dari 06

Allah ‘Azza wa Jalla juga menyifati Al-Quran dengan beberapa sifat yang memiliki makna yang agung yang juga menunjukkan keutamaannya.

Diantara sifat-sifat tersebut, yang pertama adalah ‘Aziz. Artinya: yang mulia, dimuliakan oleh Allah dengan dijaga dari segala perubahan. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dengan adz-dzikru (yaitu Al-Qur’an) ketika datang kepada mereka dan sesungguhnya dia adalah kitab yang mulia." (QS Fushshilat: 41)

Yang kedua adalah Majid. Artinya: agung lagi mulia. Maksudnya: agung maknanya dan luas ilmunya. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ

"Bahkan dia adalah Al-Qur’an yang agung." (QS Al-Buruj: 21)

Yang ketiga adalah Karimun. Artinya: mulia lagi banyak manfaatnya, besar kebaikannya dan dalam ilmunya. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

"Sesungguhnya dia adalah Al-Qur’an yang mulia." (QS Al-Waqi’ah: 77)

Sifat yang keempat adalah Mubarak. Artinya yang berbarakah (yang banyak manfaatnya dan banyak membawa kebaikan). Kebaikan bagi yang membacanya, yang menghafalnya, yang mendengarnya, yang mentadabburinya, maupun yang mengamalkannya. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ

"Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan berbarakah membenarkan apa yang datang sebelumnya." (QS Al-An’am: 92)

Diantara sifat-sifat Al-Qur’an yang kelima adalah Fashl. Artinya yang benar dan jelas, memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ

"Sesungguhnya dia (yaitu Al-Qur’an) adalah ucapan yang memisahkan (yaitu antara yang haq dan yang bathil)." (QS Ath-Thariq: 13)

Dan diantara sifat Al-Qur’an yang keenam adalah Hakim. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

الم (١) تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (٢) هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ (٣)

"Alif Lam Mim. Itu adalah ayat-ayat kitab yang hakim, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik." (QS Luqman: 1-3)

Hakim artinya memiliki hikmah dan kebijaksanaan yang mendalam, ayat-ayatnya muhkam, yaitu kokoh. Dia kokoh karena: Datang dengan lafadz yang paling fasih dan jelas yang mengandung makna yang dalam, tidak mungkin dirubah, kabar-kabar yang ada di dalamnya benar sesuai dengan kenyataan, tidak memerintah kecuali dengan sesuatu yang merupakan kebaikan bagi manusia dan tidaklah melarang kecuali dari sesuatu yang merupakan keburukan bagi manusia, dan tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya.

Dan diantara sifat Al-Qur’an yang ketujuh adalah berbahasa Arab yang Jelas. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ (١٩٥)

"Dan sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dari Rabb semesta alam, turun dengannya Ar-Ruhul Amin (yaitu Jibril) atas hatimu supaya engkau termasuk orang-orang yang memberikan peringatan dengan bahasa Arab yang jelas." (QS Asy-Syuara: 192-195)

Halaqoh 17 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Qurān Bagian 03 Dari 06

Kitab Al Qurān Bagian 03 Dari 06

Al-Qur’an memiliki nama-nama yang banyak yang menunjukkan keutamaannya, diantaranya yang pertama adalah Al-Qur’an. Ini adalah nama yang paling banyak di dalam Al-Qur’an dan inilah yang paling masyhur. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

"Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Dan seandainya itu dari selain Allah niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak." (QS An-Nisa: 82)

Yang kedua adalah Al-Kitab. Artinya "kitab", dari kata كَتَبَ yang artinya "mengumpulkan". Dinamakan demikian karena dia mengumpulkan huruf dengan huruf, ayat dengan ayat, surat dengan surat. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ

"Apakah kepada selain Allah aku mencari hakim? Padahal Dialah yang menurunkan Al-Kitab (yaitu Al-Qur’an) secara terperinci." (QS Al-An’am: 114)

Yang ketiga adalah Kitabullah. Artinya "kitab Allah". Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

"Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitabullah dan mendirikan shalat dan berinfak dari sebagian harta yang Kami rezekikan kepadanya, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS Fathir: 29)

Yang keempat adalah Al-Furqan. Artinya "yang membedakan", karena dia membedakan yang benar dengan yang bathil, petunjuk dan kesesatan, yang halal dan yang haram. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

"Sungguh berbarakah Dzat yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Qur’an) kepada hamba-Nya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam." (QS Al-Furqan: 1)

Yang kelima adalah Adz-Dzikru. Ada yang mengatakan artinya adalah “peringatan”, karena di dalamnya ada peringatan dan nasehat. Dan ada yang mengatakan artinya adalah “penyebutan”, karena di dalam Al-Qur’an disebutkan banyak permasalahan dan dalil-dalil yang jelas. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikru (yaitu Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya." (QS Al-Hijr: 9)

Diantara nama-nama Al-Qur’an, yang keenam adalah Hablullah. Artinya “tali Allah”. Dinamakan demikian karena dia menyampaikan kepada ridha Allah. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

"Dan hendaklah kalian semua berpegang teguh dengan hablullah (yaitu Al-Qur’an) dan janganlah kalian saling berpecah belah." (QS Ali ‘Imran: 103)

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: (وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي)

"Dan aku tinggalkan di antara kalian 2 perkara yang berat; yang pertama Kitabullah, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah dengan Kitabullah dan berpeganglah dengannya. Maka beliau pun menganjurkan dan mendorong untuk berpegang teguh dengan Kitabullah. Kemudian Beliau berkata: ‘Dan keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku’." (HR Muslim)

Di dalam sebuah riwayat, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,

أحدهما كتاب الله عز وجل هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على ضلالة

"Yang pertama di antara keduanya adalah Kitabullah, dia adalah hablullah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia di atas kesesatan."

Halaqoh 16 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Qurān Bagian 02 Dari 06

Kitab Al Qurān Bagian 02 Dari 06

Diantara keistimewaan Al-Qur’an yang keempat adalah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Al-Qur’an Allah turunkan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia di bulan Ramadhan, pada malam Lailatul Qadr. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

"Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur’an." (QS Al-Baqarah: 185)

Dan Allah berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an di malam Lailatul Qadr." (QS Al-Qadr: 1)

Kemudian, turun Al-Qur’an secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian dan peristiwa selama 23 tahun. Ada di antaranya yang turun sebelum hijrahnya Nabi ke kota Madinah yang dinamakan surat-surat Makiyyah. Dan ada diantaranya yang turun setelah hijrah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke kota Madinah yang dinamakan dengan surat-surat Madaniyah.

Dan diantara hikmah turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah agar lebih mudah dihafal, dimengerti, dan diamalkan. Allah berfirman:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا

"Dan Al-Qur’an telah Kami pisah-pisahkan (yaitu diturunkan secara berangsur-angsur) supaya engkau wahai Muhammad membacakannya atas manusia pada beberapa waktu dan sungguh Kami telah benar-benar menurunkannya secara bertahap." (QS Al-Isra: 106)

Dan Allah berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

"Dan berkata orang-orang kafir seandainya diturunkan kepadanya Al-Qur’an dengan sekali turun, demikianlah supaya Kami tetapkan hatimu dengannya dan Kami telah menjelaskan Al-Qur’an dengan perlahan." (QS Al-Furqan: 32)

Dan diantara keistimewaan Al-Qur’an yang kelima yaitu Al-Qur’an adalah muhaimin bagi kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

"Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaimin kitab-kitab sebelumnya." (QS Al-Maidah: 48)

Yang dimaksud dengan muhaymin adalah yang menjadi saksi, yang menghukumi, yang mengemban amanat. Maksudnya, apa yang sesuai dengannya berarti benar dan apa yang menyelisihinya berarti salah.

Diantara keistimewaan Al-Qur’an, yang keenam adalah bahwasanya Al-Qur’an diturunkan supaya menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan jin dan bukan untuk bangsa tertentu saja. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً

"Sungguh berbarakah Dzat yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Qur’an) kepada hambanya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam." (QS Al-Furqan: 1)

Seandainya seorang nabi yang diutus kepada kaum tertentu hidup di zaman Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam niscaya dia diharuskan mengikuti Al-Qur’an dan mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتْبَعَنِي‏

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya Musa hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku." (Hadits Hasan Riwayat Imam Ahmad)

Halaqoh 15 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Qurān Bagian 01 Dari 06

Kitab Al Qurān Bagian 01 Dari 06

Al-Qur’an secara bahasa adalah mashdar dari قَرَأَ, artinya جَمَعَ (yaitu mengumpulkan). Dinamakan demikian karena Al-Qur’an mengumpulkan kisah-kisah, perintah-perintah, larangan-larangan, pahala, dan juga ancaman, dan juga mengumpulkan ayat-ayat serta surat-surat satu dengan yang lain.

Adapun secara syari’at, maka Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam melalui Jibril ‘alayhissalām dan ditulis di dalam mushaf dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Naas.

Allah telah memberikan keistimewaan yang banyak terhadap Al-Qur’an yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya, diantaranya yang pertama, Al-Qur’an wajib diimani secara terperinci. Yaitu dengan dibenarkan kabar-kabarnya, dilaksanakan perintah-perintahnya, dijauhi larangan-larangannya, dilaksanakan nasehatnya, berhukum dengan Al-Qur’an di dalam perkara yang kecil maupun yang besar, dan beribadah kepada Allah dengan cara yang tercantum di dalamnya dan di dalam sunnah Rasul-Nya shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Kedua, Al-Qur’an adalah mu’jizat yang abadi. Seandainya seluruh ahli bahasa bersatu untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan mampu. Allah berfirman,

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيراً

"Katakanlah: Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Qur’an, niscaya mereka tidak bisa mendatangkan yang semisalnya meskipun sebagian membantu sebagian yang lain." (QS Al-Isra’: 88)

Dan di dalam hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ نَبِيٍّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Tidak ada seorang Nabi kecuali diberi ayat-ayat (yaitu tanda-tanda kekuasan Allah atau mu’jizat) yang seharusnya beriman dengannya manusia. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku (yaitu Al-Qur’an) maka aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat." (HR Bukhari dan Muslim)

Diantara keistimewaan Al-Qur’an yang ketiga adalah Allah telah berjanji untuk menjaganya dari pengubahan, baik lafazh maupun maknanya. dijaga lafazhnya sehingga tidak bisa ditambah dan tidak dikurangi. dan dijaga maknanya dari makna-makna yang menyimpang. Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (yaitu Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya." (QS Al-Hijr: 9)

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

"Al-Qur’an tidak didatangi kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Terpuji." (QS Fushshilat: 42)

Oleh karena itu, Allah menyiapkan di sana orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. • Para ulama yang menerangkan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Al-Qur’an dari masa ke masa, dari zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampai zaman kita dan sampai Allah mengangkat Al-Qur’an di akhir zaman. Mereka menghafal dan memahami maknanya dan istiqamah di dalam mengamalkannya, mengkhidmah Al-Qur’an dengan berbagai cara. Ada yang menulis tafsirnya baik yang singkat maupun yang panjang lebar. Ada yang mengarang tentang cara penulisannya, cara membacanya, tentang i’rabnya, dan lain-lain.

Halaqoh 14 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Injil Bagian 03 Dari 03

Kitab Al Injil Bagian 03 Dari 03

Diantara kesalahan yang ada di dalam Al-Injil yang tersebar sekarang adalah penyebutan nasab Nabi ‘Isa ‘alayhissalām kepada laki-laki sebagaimana dalam Injil Matius pasal 1 ayat 1-17 dan di dalam Injil Lukas pasal 3 ayat 23-38. Padahal Allah telah mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa Nabi ‘Isa ‘alayhissalām lahir dari seorang wanita tanpa disentuh laki-laki, seorang wanita yang shalihah, bukan wanita pezina, bukan wanita yang bersuami, sebagai tanda kekuasaan Allah Subhānahu wa Ta’āla. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

"Maryam berkata, 'Bagaimana aku memiliki anak laki-laki, padahal tidak ada laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan wanita pezina.' Jibril berkata, 'Demikianlah dikatakan oleh Rabb-mu. Dia berkata, 'Yang demikian mudah bagi-Ku dan supaya Kami jadikan dia (yaitu ‘Isa) sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan itu adalah perkara yang sudah diputuskan'." (QS Maryam: 20-21)

Oleh karena itu, Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai ‘Isa bin Maryam sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah 87 dan juga yang lain, Al-Masih bin Maryam, sebagaimana dalam Surat Al-Maidah ayat 17 dan juga yang lain, Al-Masih ‘Isa bin Maryam sebagaimana dalam QS Ali ‘Imran ayat 45 dan juga yang lain.

Apa yang tertulis di dalam Injil yang sekarang, justru membenarkan akidah orang Yahudi yang mengatakan bahwa Nabi ‘Isa adalah anak zina.

Dan di sana ada perbedaan antara nasab ‘Isa di dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa Nabi ‘Isa adalah Anak Yusuf bin Ya’qub bin Matan bin Ilyazar dan seterusnya, termasuk keturunan Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimāssalām. Adapun di dalam Injil Lukas disebutkan bahwa beliau adalah anak Yusuf bin Eli bin Matat bin Lewi dan seterusnya, termasuk keturunan Natan bin Dawud ‘alaihissalām.

Halaqoh 13 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Injil Bagian 02 Dari 03

Kitab Al Injil Bagian 02 Dari 03

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Al-Injil di dalam Al-Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Tentang sebagian yang terkandung di dalam Al-Injil. Allah Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan diantara kandungan Kitab Injil adalah yang pertama adalah Kabar Gembira Tentang Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ, Sebagaimana dalam surat Al-A’raf ayat ke 157. Demikian pula Penyebutan Sifat Sahabat Rasulullah ﷺ Sebagaimana dalam surat Al-Fath ayay 29. Dan Allah juga menyebutkan di dalamnya bahwa Allah Membeli Jiwa dan Harta Orang yang Beriman dengan Surga sebagaimana di dalam QS At-Taubah ayat ke-111.

Dan diantara kabar yang kita ketahui tentang Kitab Injil di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah bahwa diturunkan Kitab Injil malam tanggal 14 Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda,

وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان وأنزل الانجيل لثلاث عشرة مضت من رمضان

"Dan Taurat diturunkan setelah 6 hari berlalu di bulan Ramadhan (yaitu malam tanggal 7) dan Injil diturunkan setelah 13 hari berlalu di bulan Ramadhan (yaitu malam tangal 14)." (HR Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh)

Perlu diketahui bahwa Al-Injil yang ada sekarang bukanlah Injil yang asli yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alayhissalām. Al-Injil yang Allah turunkan kepada Nabi ‘Isa tidak diketahui bekasnya, yang ada hanyalah tulisan orang-orang yang tidak jelas riwayat hidupnya dan tidak ada sanad yang shahih, yang mereka hidup berpuluh-puluh tahun setelah Nabi ‘Isa diangkat oleh Allah, sehingga banyak kesalahan dan perbedaan yang banyak sekali antara Injil-Injil tersebut. Oleh karena itu mereka menamakan Injil-Injil tersebut dengan nama-nama penulisnya, yaitu Injil Mathius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohana, dan lain-lain. Dan mereka tidak mengatakan bahwa itu Injil dari ‘Isa ‘alayhissalām.

Kamis, 11 Februari 2021

Halaqoh 12 Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada Kitab Allah: Kitab Al Injil Bagian 01 Dari 03

Kitab Al Injil Bagian 01 Dari 03

Ada yang mengatakan bahwa kata Al-Injil berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “Kabar Gembira”.

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Al-Injil di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang pertama Al-Injil diturunkan kepada Nabi Isa Alaihissalām. Allah berfirman:

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ

"Kemudian Kami susulkan setelah mereka yaitu Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim Rasul-Rasul Kami dan Kami susulkan pula Isa Putra Maryam dan Kami berikan Injil kepadanya." -(Surat Al-Hadid 27)

Yang kedua, Al-Injil diturunkan untuk membenarkan At-Taurat, mengikutinya, dan tidak menyelisihinya. Allah berfirman,

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

"Dan Kami susulkan setelah mereka dengan Isa putra Maryam yang membenarkan apa yang datang sebelumnya berupa kitab Taurat dan Kami berikan Injil kepadanya di dalamnya ada petunjuk dan cahaya dan Injil tersebut datang untuk membenarkan kitab yang datang sebelumnya yaitu kitab Taurat dan petunjuk serta nasehat bagi orang-orang yang bertaqwa." (Surat Al-Ma’idah 46)

Kitab Injil isinya mengikuti isi Taurat kecuali dalam beberapa hukum yang sedikit. Allah berfirman menceritakan ucapan Nabi Isa kepada Bani Israil,

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ

"Dan Aku membenarkan kitab yang datang sebelumku yaitu Taurat dan aku menghalalkan sebagian dari apa yang sebelumnya diharamkan atas kalian." (Surat Al-Imran 50)

Berkata Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini,

ولهذا كان المشهور من قولي العلماء أن الإنجيل نسخ بعض أحكام التوراة

“Oleh karena itu yang masyhur dari dua pendapat ulama bahwa injil menghapuskan sebagian hukum-hukum Taurat.”

Datang di dalam Perjanjian Baru Injil Matheus pasal 5 ayat 17-19 yang menguatkan hal ini disebutkan di dalamnya bahwa Nabi Isa berkata,

"Janganlah kamu menyangka bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi, aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya karena aku berkata kepadamu sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini satu huruf atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi, karena itu siapa yg meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan Surga."

Oleh karena itu Nabi Isa berkhitan sebagaimana dalam Perjanjian Baru Injil Lukas pasal 2 ayat 21, yang demikian karena beliau Alaihissalām mengikuti syari’at Nabi Musa Alaihissalām sebagaimana disebutkan di dalam Perjanjian Lama kejadian pasal 17 ayat 9-14. Adapun Paulus dia telah merusak ajaran Nabi Musa dan Nabi Isa dan membatalkan hukum sunat dan mengatakan “bahwa sunat adalah sunat dalam hati” sebagaimana dalam Perjanjian Baru Roma pasal 2 ayat 28-29.