Senin, 28 Oktober 2019

Halaqoh-2 Silsilah Ilmiyah Mengenal Allah: Mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Pencipta

Mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Pencipta

Allah subhanahu wa ta'ala adalah zat yang Maha Pencipta, yang menciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dialah Allah yang telah menciptakan langit, menciptakan bumi, manusia dan seluruh alam semesta. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya: "Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu,..." (Ghofir : 62)

Sedangkan selain Allah adalah makhluk yang diciptakan. Mereka tidak bisa mencipta meskipun diagung-agungkan dan disembah manusia.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

Artinya: "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." --(Al-Hajj : 73)

Berkumpul dan bekerjasama saja mereka tidak mampu untuk mencipta, bagaimana mencipta sendirian? Menciptakan seekor lala yang sedemikian sederhana susunan tubuhnya mereka tidak mampu, maka bagaimana mereka bisa menciptakan makhluk yang lebih rumit?

Seorang muslim wajib meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta'ala adalah satu-satunya Pencipta dan tidak ada yang mencipta selain Allah subhanahu wa ta'ala. Barang siapa yang meyakini ada yang mencipta selain Allah maka sungguh telah melakukan syirik besar.

Halaqoh-1 Sililah Ilmiyah Mengenal Allah: Pentingnya Mengenal Allah, Rosulullah ﷺ, dan Agama Islam

Pentingnya Mengenal Allah, Rosulullah ﷺ, dan Agama Islam

Rosulullah ﷺ mengabarkan bahwa setiap manusia apabila meninggal dunia maka di alam kubur akan ditanya oleh dua malaikat tentang tiga perkara: siapa Tuhanmu, siapa nabimu, dan apa agamamu? Oleh karena itu wajib bagi seroang muslim dan muslimah untuk mempersiapkan diri terkait tiga perkara tersebut.

Perlu diketahui bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak cukup dengan menghafal. Sebab, seandainya menghafal itu cukup niscaya orang munafik pun bisa menjawab pertanyaan. Tetapi yang dituntut adalah pemahaman dan juga mengamalan. Barang siapa yang di dunia mengenal Allah dan memenuhi hak-Nya, mengenal Nabi Muhammad ﷺ dan memenuhi haknya, serta mengenal agama islam dan mengamalkan isinya maka diharapkan dia bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan mendapat kenikmatan di dalam kuburnya. Namun apabila dia tidak mengenal Allah dan tidak memenuhu hak-Nya, tidak mengenal Nabi Muhammad ﷺ dan tidak memenuhi haknya, serta tidak atau kurang mengenal ajaran agama Islam dan tidak mengamalkannya, maka ditakutkan dia tidak bisa menjawab pertanyaan sehingga akibatnya siksa kubur yang akan dia dapatkan.

Minggu, 06 Oktober 2019

Halaqoh-25 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Ridho dengan Hukum Allah

Ridho dengan Hukum Allah

Allah subhanahu wa ta'ala sebagai pencipta manusia sangat menyayangi ciptaannya. Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim. Di antara bentuk kasih sayang Allah adalah menurunkan syariat supaya manusia mendapatkan kebahagian dan terhindar dari kesusahan di dunia maupun di akhirat. Dialah yang Maha mengetahui dan Maha bijaksana, hukum-Nya penuh dengan keadilan, hikmah dan juga kebaikan meskipun terkadang samar atas sebagian manusia. Oleh karena itu menjadi keharusan bagi seorang muslim dan muslimah untuk ridho dengan hukum Allah dan yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allah di dalam semua bidang kehidupan, aqidah, akhlak, adab, muamalah, ekonomi, kenegaraan dan lain-lain.

Mengesakan Allah subhanahu wa ta'ala di dalam hukim-hukum-Nya adalah termasuk konsekuensi tauhid. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Artinya: "Dan tidaklah pantas seorang laki-laki yang mu'min dan wanita yang mu'minah apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan lain di dalam urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata." --(Al-Ahzab : 36)

Halaqoh-24 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Menyandarkan Kenikmatan kepada Allah

Menyandarkan Kenikmatan kepada Allah

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Artinya: "Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya dari Allah." --(An-Nahl : 53)

Adalah termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapat sebuah kenikmatan dari Allah subhanahu wa ta'ala kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allah. Misalnya seperti ungkapan "kalau pilot tidak mahir, niscaya kita sudah celaka", "kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri", "kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak akan sembuh." dan sebagainya. Ini semua adalah contoh menyandarkan kenikmatan kepada sebab. Allah berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا

Artinya: "Mereka mengenal nikmat Allah kemudian mereka mengingkarinya." --(An-Nahal : 83)

Seharunya kenikmatan tersebut disandarkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, zat yang menciptakan sebab. Yang seharusnya dikatakan adalah: "Kalau bukan karena Allah, niscaya kita sudah celaka.", "kalau bukan karena Allah, niscaya uang kita sudah hilang", atau "kalau bukan karena Allah, niscaya saya tidak akan sembuh." dan sebagainya. Yang demikian karena Allahlah yang memberikan nikmat keselamatan, nikmat keamanan, nikmat kesembuhan, dan sebagainya. Sedangkan, makhluk adalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allah subhanahu wa ta'ala menghendaki niscaya Allah tidak akan menggerakan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. Ini semua bukan berarti seorang muslim tidak boleh berterimakasih kepada orang lain. Seorang muslim diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan terimakasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka telah menjadi sebab kenikmatan tersebut. Bahkan diperintahkan pulsa untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan doa yang baik. Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata.

Halaqoh-23 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Taat Ulama dalam Kebenaran

Taat Ulama dalam Kebenaran

Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allah subhanahu wa ta'ala dan juga agama yaitu ilmu yang membawa dirinya untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Para ulama adalah pewaris para nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi. Allah subhanahu wa ta'ala telah mengangkat derajad para ulama' dan memerintahkan kita untuk taat kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, taatlah kepad Rasul, dan ulil amri kalian." --(An-Nisa' : 59)

Ulil amri di sini mencakup ulama dan umaro (pemerintah). Menghormati para ulama bukan berarti menaati mereka di dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan. Ulama, seperti manusia yang lain, ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar. Jika benar mereka mendapatkan dua pahala, dan jika salah mereka mendapatkan satu pahala. Apabila telah jelas kebenaran bagi seorang muslim dan jelas bahwa seorang ulama menyelisihi kebenaran tersebut dalam sebuah permasalahan maka tidak boleh seseorang menaati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran itu. Rasulullah ﷺ:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Artinya: "Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan hanya di dalam kebenaran." --(HR. Bukhori No. 7257 dan Muslim No. 1840)

Apabila seseorang menaati ulama dalam kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan menyampai syariat. Ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasroni sebagaimana disebut oleh Allah di dalam firman-Nya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Artinya: "Mereka (Yahudi dan Nasroni) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allah." --(At-Taubah : 31)

Ketika menjelaskan ayat ini, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ

Artinya: "Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepad para ulama dan ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka apabila menghalalkan apa yang Allah haramkan maka merekapun ikut menghalalkan. Dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allah halalkan maka merekapun ikut mengharamkan." --(HR. At-Tirmidzi No. 3095 dari 'Adi ibnu Hatim dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Halaqoh-22 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Takut kepada Allah

Takut kepada Allah

Di antara keyakinan seorang muslim bahwa manfaat dan mudhorot adalah di tangan Allah semata. Seorang muslim tidak takut kecuali kepada Allah semata dan tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah. Takut kepada Allah yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya kepada merendahkan diri di hadapan Allah, mengagungkannya, dan membawanya untuk menjauhi larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Bukan takut yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allah, dan bukan juga takut yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada ketaatan kepada Allah.

Takut seperti ini adalah ibadah. Tidak boleh sekali-kali seorang muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allah. Barang siapa menyerahkannya kepada selain Allah, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Misalnya, orang yang takut mudhorot wali fulan yang sudah meninggal, kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan kemudian mengagungkannya. Hendaknya seorang muslim meneladani Nabi Ibrohim 'alaihissalam ketika beliau berkata:

وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ

Artinya: "...Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu." --(Al-An'am : 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takunya seseorang kepada makhluk melebihi takutnya kepada Allah, sehingga takutnya tersebut membuatnya meninggalkan perintah Allah, atau melanggar larangan Allah. Seperti orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir, atau tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu. Allah berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: "Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." --(Ali Imron : 175)

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluk yang diharamkan adalah berlindung kepada Allah subhanahu wa ta'ala dari bisikan setan dan mengingat sabda Nabi ﷺ:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

Artinya: "Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allah tulis. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudhorot kepadamu, niscaya mereka tidak bisa memberi mudhorot kecuali dengan apa yang sudah Allah tulis." --(HR. At-Tirmidzi No. 2516 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabi'at manusia seperti takut kepada panasnya api, binatang buas, dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan bukanlah takut yang menyebabkan seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah subhanahu wa ta'ala. Ini adalah takut yang tabi'at, para nabipun tidak terlepas darinya.

Halaqoh-21 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Cinta kepada Allah

Cinta kepada Allah

Mencintai Allah merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang muslim merendahkan dirinya di hadapan Allah, mengagungkan Allah dan akhirnya akan membawa seseorang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi apa yang Allah larang. Inilah cinta yang merupakan ibadah. Barang siapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik yang besar. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

Artinya: "Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain dari Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat besar kecintaannya kepada Allah..." --(Al-Baqoroh : 165)

Adapun cinta yang merupakan tabi'at manusia seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dan lain-lain, maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah. Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allah, maka dia telah melakukan dosa besar. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: "Katakanlah: 'Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian kuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, itu semua lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan juga berjihad di jalan Allah maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.'" --(At-Taubah : 24)

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan, maka akan nampak siapa yang lebih dia cintai dan akan nampak siapa yang cintanya benar, siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja. Dan di antara cara memupuk rasa cinta kita kepada Allah adalah dengan mentadabburi atau memperhatikan ayat-ayat Al-Qur'an dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Demikian pula, dengan mengingat-ingat kenikmatan yang Allah berikan.

Sabtu, 05 Oktober 2019

Halaqoh-20 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Riya'

Riya'

Riya' adalah seseorang mengamalkan sesuatu ibadah bukan karena ingin pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala akan tetapi ingin dilihat oleh manusia dan dipuji. Riya' hukumnya haram dan termasuk syirik kecil yang samar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Riya' adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang bagaimanapun besar amal tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Artinya: "Allah Tabaroka wa ta'ala berfirman: Aku adalah zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya." --(HR. Muslim No. 2985)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Artinya, dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riya' tersebut. Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allah yang kalau Allah menghendaki maka diampuni langsung dan kalau Allah menghendaki maka akan diadzab terlebih dahulu. Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya" --(An-Nisa' : 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertamakali nanti dinyalakan api neraka dengan mereka? Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam, tetapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih - mereka adalah orang yang mengajarkan Al-Qur'an supaya dikatakan sebagai seorang qori seseorang yang suka membaca Al-Qur'an atau seseorang yang mahir membaca Al-Qur'an, dan juga orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan dan berjihad supaya dikatakan pemberani. Mereka beramal bukan karena Allah sebagaimana ini dikabarkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadist yang shohih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlashlah dalam beramal dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga. Para salaf pun merasakan sangat beratnya memperbaiki hati mereka. Hanya kepada Allah kita meminta kekhlasan dalam beramal, dijaukan dari riya' sum'ah, ujub dan berbagai penyakit hati dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita, kecuali kalau ada maslahat yang lebih kuat.

Halaqoh-19 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Bersumpah dengan Selain Nama Allah

Bersumpah dengan Selain Nama Allah

Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan baik oleh yang berbicara maupun yang diajak bicara. Dalam bahasa arab maka dengan menggunakan huruf wawi, atau ba' atau ta'. Adapun dalam bahasa Indonesia, maka menggunakan kata "demi".

Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allah semata misalnya dengan mengatakan "wallahi" atau "demi Robb yang menciptakan langit dan bumi", "demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya", dan lain-lain. Adapun makhluk bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya. Misalnya dengan mengatakan "demi rasulullah", "demi ka'bah", "demi Jibril" , "demi langit", "demi bumi", "demi bulan", dan lain-lain - Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluk yang terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

Artinya: "Barangsiapa bersumpah dengan selain nama Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik." --(HR. Abu Daud No. 3251 dan At-Tirmidzi No. 1535 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahullah)

Syirik dalam hadist ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun bisa sampai kepada syirik besar apabila dia mengucapkan sumpah dengan makhluk disertai pengagungan seperti dia mengangungkan Allah. Seperti sumpah yang dilakukan orang-orang musyrik dengan mengatakan "demi Wisnu" atau "demi dewa fulan" atau "demi lata" dan lain-lain.

Halaqoh-18 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: Meramal Nasib dengan Bintang

Meramal Nasib dengan Bintang

Bintang adalah makhluk yang menunjukkan kebesaran Allah, penciptanya. Allah telah mengabarkan di dalam Al-Qur'an bahwa bintang ini memiliki tiga faedah sebagai berikut: pertama sebagai perhiasan langit; kedua, sebagai pelempar setan; dan ketiga, sebagai petunjuk manusia, seperti mengetahui arah utara atau selatan, arah daerah, arah kiblat, untuk mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan dan lain-lain. Allah subhanahu wa wa'ala tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain tiga perkara di atas. Seorang salaf, qatadah bin diamah rohimahullah, seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 H, beliau menjelaskan bahwa barang siapa yang meyakini bintang memiliki faedah yang lain selain tiga hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu. (Ucapan ini dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori di dalam shohih beliau). Contohnya adalah meyakini bahwa terbit dan tenggelamnya bintang atau berkumpul atau berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang di masa yang akan datang, baik di dalam masalah rezeki, jodoh, dan lain-lain, sebagaimana kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah. Membaca dan mempercayai hal seperti itu adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar. Sebagian ulama mengatakan hukumnya sama seperti seseorang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya yang ancamannya adalah tidak diterima sholatnya selama empat puluh hari. Hendaknya kita semua takut kepada Allah dan jangan sekali-kali membaca kolom-kolom tersebut serta jangan juga memasukkannya ke dalam rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak aqidah kita dan keluarga kita karena aqidah adalah modal kita untuk memasuki sorga Allah subhanahu wa ta'ala dengan selamat.

Halaqoh-17 Silsilah Ilmiyah Belajar Tauhid: At-Tathoyyur

At-Tathoyyur

At-Tathoyyur adalah merasa bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu, seperti meilhat tabrakan, atau orang berkelahi, atau yang semisalnya, kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang, dan lain-lain. At-Tathoyyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut diikuti. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Artinya: "Barang siapa yang At-Thiyaroh menyebabkannya tidak jadi melakukan hajatnya, maka dia telah berbuat syirik." --(HR. Ahmad No. 6748)

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir sebagaimana hal ini dinafikan dan diingkari oleh Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: "Tidak ada 'adwa (anggapan penyakit menular), dan tidak ada thiyaroh (anggapan sial), dan tidak ada hammah (reinkarnasi), dan tidak ada shofar (anggapan keramat bulan shofar)" --(HR. Bukhori No. 5757, Muslim No. 2220 dan Abu Daud No. 3911)

Maksudnya thiyaroh ini hanyalah sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allah. Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh mengikuti waswas setan ini dan hendaknya dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi dipermukaan bumi berupa kebaikan dan keburukan merupakan takdir Allah subhanahu wa ta'ala semata. Seorang mu'min hendaknya yakin bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak ada yang melindungi dari keburukan kecuali Allah subhanahu wa ta'ala, hanya bertawakal kepada Allah semata, dan berbaik sangka kepada Allah. Apabila datang perasaan waswas tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya, dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allah subhanahu wa ta'ala semata.

Adapun At-Tafa-ul maka diperbolehkan dalam agama kita. Tafa-ul adalah berbaik sangka kepada Allah karena melihat atau mendengar sesuatu. Dahulu Nabi ﷺ sering bertafa-ul seperti ketika terjadi Perjanjian Hudaybiyah. Dimana utusan Quraisy saat itu bernama Suhail. Kata Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata "sahl" yang artinya "mudah". Maka Bilau pun berbaik sangka kepada Allah bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam, kemudian benarlah persangkaan beliau ﷺ. Allah subhanahu wa ta'ala setelah itu membuka pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.